'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Ketika Muballigh ‘Aisyiyah Berkumpul, Kesetaraan Gender dan Keluarga Sakinah pun Jadi Bahasan
31 Januari 2017 10:59 WIB | dibaca 617

Menurutnya, ada 5 poin ‘kesetaraan gender’ yang ada dalam Al-Qur’an. Pertama, kesetaraan dalam hal ibadah. “Maksudnya tidak ada perbedaan bagi perempuan dan laki–laki dalam kaitannya dengan ibadah sebagaimana dijelaskan surat An-Nahl ayat 97 dan surat An-Nisaa ayat 124,” ungkap Luluk, panggilan akrabnya.

Kedua, kata Luluk, laki–laki dan perempuan sama–sama sebagai khalifatullah fiil ardi. “Kemampuan dalam pengelolaan hasil bumi telah sama–sama dimiliki oleh kaum laki–laki dan perempuan seperti penjelasan surat Al-Baqarah ayat 30 dan surat At-Aaubah ayat 71,” tegasnya.

“Ketiga, ketika diciptakan, Adam dan Hawa, sama–sama mempunyai kewajiban seperti yang diperintahkan oleh Allah.” Keempat, Luluk melanjutkan, laki-laki dan perempuan sama–sama mempunyai potensi untuk berprestasi. “Ini saperti terdapat dalam surat An-Nisaa’ ayat 124 dan surat An-Nahl ayat 97. Dan yang kelima, adalah laki–laki dan perempuan memiliki kedudukan setara di mata hukum,” jelasnya.

Sementara itu, Dra. Hj. Umi Salamah menyampaikan materi tentang tantangan keluarga di era globalisasi. “Sakinah itu artinya ketenangan. Dalam Islam, konsep itu terdapat pada surat At-Taubah ayat 26, surat Al-Baqarah ayat 248, dan surat Al-Fath ayat 18.” Landasan pembentukan keluarga sakinah, kata Umi, harus bertumpu pada ketauhidan. “Adapun asas keluarga sakinah terdiri dari asas karomah insaniyah, hubungan kesetaraan (asas keadilan), mawaddah, dan pemenuhan kebutuhan kehidupan.” Sedangkan kebutuhan dasar keluarga, tambah Umi, adalah kebutuhan spiritual, pendidikan, ekonomi, hubungan sosial, kesehatan, dan pengelolaan lingkungan.

Hj. Sunkanah, SH., M.Hum sangat senang dengan metode ini. “Ditampilkannya Muballighat senior dan pemula tidak lain hanyalah untuk saling belajar dan melengkapi segenap kekurangan.” Menurutnya, audience juga harus aktif bertanya untuk bisa merangsang kemampuan pribadi masing-masing. “Saya bangga sekali dengan banyaknya kader muballighat. Semoga semua bisa istiqomah dalam perjuangan ‘Aisyiyah,” tegas Dosen Syariah UMM itu.

Forum CMA rutin diadakan tiap tiga bulan sekali. Inilah salah satu cara PDA Kota Malang meningkatkan kualitas para Muballighatnya. “Dengan tempat dan pemateri yang digilir di antara para Muballighat itu, forum ini –selain menjadi ajang silaturahmi– juga jadi wahana peningkatan kualitas diri,” ujar Ketua Majelis Tabligh PDA Kota Malang Nur ’Aini Al Mascati saat ditemui di sela-sela acara. (Uzlifah)

Shared Post: