'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Manajemen Pendidikan Bukan seperti Mengelola Toko Kelontong
27 Februari 2017 17:55 WIB | dibaca 593

Manajemen pendidikan bukan seperti mengelola sebuah tempat usaha barang (baca toko kelontong, red). Sebab, semua yang terlibat dalam dunia pendidikan memiliki keunikan masing-masing. Untuk itu, dibutuhkan formula yang tepat dalam mengatur segala permasalahan manejemen pendidikan, termasuk pada pendidikan anak usia dini (PAUD) dan TK.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah yang membidangi Majelis Dikdasmen Prof. Hj . Masyitoh Chusnan menegaskan hal itu pada acara Pembinaan Guru TK ABA se-Kota Malang yang bertempat di Aula PDM Kota Malang, Senin (13/2).

Masyitoh menyatakan bahwa manajemen PAUD atau TK pada dasarnya merupakan implementasi manajemen pendidikan, yaitu keseluruhan proses pendayagunaan semua sumber daya manusia maupun bukan manusia dalam rangka mencapai tujuan intruksional pendidikan pra-sekoah.

Sumber daya yang dimaksud, kata dia, adalah komponen-komponen dalam system pendidikan, seperti program kegiatan belajar (PKB), pembina, sarana, prasarana, uang, dan komponen lainnya.

“Tujuan manajemen pendidikan untuk anak usia dini atau kanak-kanak adalah agar sistem pendidikan berlangsung efektif dan efisien,” ujar alumni Madrasah Mualimmat Muhamamdiyah Yogyakarta ini.

Menurutnya, ada beberapa model penataan kelembagaan konvensional. “Karena itu kita harus mencari model yang paling tepat agar PAUD dan TK dalam binaan ‘Aisyiyah bisa berkembang dengan baik,” ujarnya.

“Kita perlu mengejar ketertinggalan, dengan cara  menjadikan TK ABA Premium sebagai wujud dari keseriusan Aisyiyah dalam meningkatkan kualitas pendidikan PAUD dan TK ABA,” kata Masyitoh sekaligus menjelaskan bahwa TK ABA Premium itu diharapkan bisa menjadi rujukan di Malang dan Jawa Timur. “Sasaran TK ini adalah untuk kelas menegah ke atas.”

Untuk menjadikan TK berkualitas, kata dia, kepala sekolah harus mempunyai visi dan orientasi ke depan. Dengan kata lain, harus berfikir maju. “Dan itu bisa dilihat dari perencanaan dan perkembangan pendidikan di TK yang bersangkutan. Maksudnya TK itu mampu bergerak cepat, tidak diam sehingga senantiasa dapat mengejar ketertinggalan,” kata mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

 “Nah, untuk bisa menjadi percontohan harus dilihat dulu SDM-nya, terutama kepala sekolah,” jelasnya. Kepala sekolah, kata Masyitoh harus punya dua hal. Pertama, mempunyai mimpi, karena orang yang mempunyai mimpi akan timbul kreativitas. Bila tidak punya mimpi, ujarnya, seperti orang mati.

Kedua yaitu punya ghirah atau semangat. “Orang yang punya semangat akan selalu bertanya: apa yang bisa saya perbuat? Dan bukan apa yang saya dapat?” kata dia sambil tersenyum.

Masyitoh menjelaskan, sebagai education for all, PAUD harus ditangani dengan serius, prima, fokus, profesional, dan dengan hati yaitu dengan pendekatan relegius. “Addabani Rabbii fa ahsana ta’dibi´maksudnya bukan ta’lim, bukan pula tarbiyah,” ujar dia. Maksudnya, jelasnya, memdidik secara agama itu mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada tarbiyah. Begitu juga lebih tinggi dari pada ta’lim yang hanya transfer knowledge. (Uzlifah)

Shared Post: